Awal Toko Buku Terbesar dalam Sejarah

Berbekal pengetahuan akan teknologi internet pada tahun 1995, Jeff Bezos memulai toko buku online yang bukan saja mampu menyaingi toko buku konvensional tetapi dikenal sebagai toko buku terbesar yang ada dalam sejarah. Sebagai perusahaan yang masuk dalam Fortune 500, saat ini Amazon.com Inc tidak hanya mengklain dirinya sebagai toko buku terbesar, namun juga sebagai The Earth's Biggest Selection, yaitu tempat menjual segala sesuatu secara online dengan pilihan terbanyak di dunia. Pada tahun 2004 penjualan Amazon.com mencapai 60 triliun rupiah.

Transient

Jeff Bezos sudah memikirkan penjualan secara online sejak ia bekerja sebagai seorang analis bisnis di kota New York pada tahun 1994. Setelah melakukan penelitian terhadap perusahaan penjualan melalui surat kabar, Bezos memutuskan bahwa buku adalah produk terbaik untuk dijual melalui internet. Pada bulan Juli 1995, Amazon.com meluncurkan websitenya sebagai katalog buku-buku online yang menarik dan mudah dipakai. Selama satu bulan beroperasi, Amazon.com berhasil menjual buku-buku ke pelanggan di seluruh negara Amerika Serikat dan ke lebih dari 40 negara. Dua bulan kemudian, penjualan sudah mencapai $20.000 per minggu.

Dengan terus melakukan berbagai pengembangan, Amazon.com tetap bertahan meskipun pernah mengalami penurunan saham dari $100 per saham menjadi hanya $6. Dengan menambahkan musik dan video sebagai produk yang dijual pada tahun 1998, Amazon mampu mengakuisisi toko buku online Inggris (Bookpages) dan toko buku online Jerman (Telebook) juga membeli Internet Movie Database. Pada tahun 1999, ketika perusahaan dot com mulai goyang, Amazon justru meluaskan produk yang dijual dengan memasukan video games, software dan produk rumah tangga. Di tahun yang sama juga mengakuisisi toko online untuk obat dan bahan farmasi, pemasok toko online binatang peliharaan, kebutuhan sehari-hari dan masih banyak lagi.

Berikut adalah pesan Jeff Bezos bagi para entrepreneur, "Untuk menemukan sesuatu yang baru, Anda harus keras kepala sekaligus fleksibel. Jika Anda tidak keras kepala, Anda akan segera mudah menyerah pada percobaan-percobaan yang Anda lakukan. Namun jika Anda tidak fleksibel, mungkin Anda akan membenturkan kepala ke tembok dan tidak melihat solusi alternatif pada permasalahan yang Anda hadapi. Yang paling sulit adalah menentukan pada situasi kapan Anda harus menjadi salah satu di antaranya."