Bagaimana jika Bisnis Dikelola oleh Keluarga?

Sumber Foto:http://www.amserv.com

Sumber Foto:http://www.amserv.com

Tahukah Anda bahwa sebagian besar dari UKM di Indonesia merupakan perusahaan keluarga? Sebut saja PT. Bakrie Brother, PT. Hero Supermarket, PT. Jamu Jago atau PT. Gudang Garam. Sebagian dari mereka merupakan perusahaan keluarga yang tumbuh besar dan sukses hingga beberapa generasi. Usaha keluarga atau family business memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perkembangan bisnis di Indonesia. Namun banyak juga yang mengalami sandungan dan goyah karena persoalan keluarga pula. Jamu Cap Nyonya Meneer di Semarang misalnya, karena retak lahirlah Dua Putri Dewi. Di dalam perusahaan Blue Bird juga terjadi keretakan antara putra-putri direktur Blue Bird. Bahkan, kakak beradik ini sampai saling melaporkan kepada pihak kepolisian.

Meskipun tantangan yang dihadapi oleh perusahaan keluarga semakin kompleks seiring perkembangannya, namun perusahaan tersebut masih bisa berhasil dan semakin maju. Ada berbagai alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pertama, perusahaan keluarga tidak dibebani oleh tuntutan para pemegang saham. Kedua, anggota keluarga mau mengorbankan keuntungan jangka pendek untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang. Suatu studi menunjukan bahwa anggota keluarga lebih produktif jika dibandingkan dengan pekerja lainnya. Ketiga, tingkat fleksibilitas dari perusahaan untuk memberikan respons terhadap tantangan dan peluang tanpa adanya banyak hambatan.

Manfred Kets de Vries (1993), seorang ahli psikologi, mampu menunjukan lebih lengkap mengenai keunggulan dan kelemahan dari usaha keluarga, sebagai berikut ;

KelebihanKekurangan
1. Kebebasan bertindak
2. Tekanan dari pasar modal sedikit sekali
3. Resiko terjadinya pengambil alihan hampir tidak ada
4. Budaya keluarga sebagai sumber kebanggaan
5. Stabilitas
6. Komitmen / motivasi yang kuat
7. Tidak terlalu birokratis dan impersonal
8. Berorientasi jangka panjang
1. Akses terhadap pasar modal kecil
2. Struktur perusahaan tidak teratur
3. Pembagian tugas yang kurang jelas
4. Lebih mementingkan sanak saudara dalam memberikan jabatan
5. Adanya "Spoiled Kid Syndrome"
6. Potensi perselisihan intern
7. Ketegangan financial