Social Business

Muhammad Yunus adalah seorang bankir dari Bangladesh. Orang pertama yang mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Peraih Nobel Perdamaian ini menggagas sebuah bisnis yang berjenis Social Business, dimana tujuannya adalah memberi benefit (manfaat) pada pemberdayaan komunitas. Walau begitu, tetap harus ada profit supaya bisnisnya dapat berjalan langgeng (punya sustainabilitas).

Bisnis non profit bisa masuk kategori usaha sosial (Social Business). Maksud dari non profit bukan berarti usahanya tidak menguntungkan, tapi keuntungan dari usaha itu tidak dibagi kepada pemilik usaha, namun dikembalikan kembali kepada usaha itu. Bentuk dari usaha non profit biasanya adalah yayasan atau perkumpulan. Setiap usaha, perlu menjaga kelangsungan hidupnya atau punya sustainabilitas. Untuk itu, biarpun bisnis non profit, tetap harus punya profit, namun sekali lagi, yang diutamakan lebih pada manfaat sosial dari bisnis itu.

Di Indonesia sebenarnya sudah banyak juga usaha seperti ini, baik dalam hal permodalan seperti credit union maupun usaha yang menekankan pada sosial. Untuk rumah misalnya, salah satunya adalah Habitat for Humanity Indonesia atau ada contoh sebuah blog usaha sosial Sahabat Studio Habitat Indonesia. Salah satu contoh paling mudah untuk dikemukakan adalah usaha jasa persemayaman jenasah. Di Surabaya ada satu tempat bernama Adi Jasa, ini merupakan usaha non profit berbentuk yayasan, namun pendapatannya sangat besar.

Perkembangan dunia usaha saat ini mulai mengarah kepada usaha sosial yang tetap harus bisa menghasilkan profit untuk kelanggengan usaha.

social_e2_b.jpg