Dikit-dikit Makin Lama Jadi Bukit

Setiap pengusaha, baik kecil, menengah maupun besar, pasti punya gaya tersendiri dalam menjalankan perusahaannya. Demikian pula, masing-masing punya ladang sendiri yang digarap. Tentunya dengan gambaran keuntungan yang telah dibayangkannya. Namun ada satu tipe yang banyak dijalankan oleh pengusaha dewasa ini, yakni mencari bentuk usaha yang dalam waktu cepat bisa memberikan banyak keuntungan. Kalau bisa, sekali jual, untungnya berlipat  ganda.

Transient

Jaman dulu, pepatah mengatakan, dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Orang mesti tekun bekerja dan sabar. Kesabaran hasilnya akan bagus. Tak sabar dan ingin cepat untung malah buntung. Tapi apakah itu masih relevan? Jaman sekarang, kalau ada kesempatan harus segera dimanfaatkan secepat-cepatnya. Hukum rimba berlaku, siapa kuat dia yang berkuasa. Orang jadi ingin cepat kaya dengan menggunakan segala macam cara. Mulai dari yang halal sampai menghalalkan segara cara.

Yang menarik, mengapa orang segan melakukan bisnis yang untung kecil tapi omset penjualannya besar? Misalnya, seorang agan koran dan majalah, untungnya tiap korannya mungkin cuma Rp 1000,-. Tapi coba dibayangkan kalau ia bisa menjual ribuan koran tiap harinya. Berapa banyak pendapatan bersih tiap bulannya? Tapi siapa yang siap untuk itu dan ulet untuk berusaha yang mendapatkan rupiah demi rupiah? Kalau bisa ya jutaan demi jutaan.

Memang, menghadapi persaingan yang begitu ketat, dengan motto kuno semacam itu jelas akan selalu ketinggalan. Yang besar makin kuat. Kecemburuan sosial para pengusaha yang baru merintis terhadap pengusaha sukses membuatnya ingin meraih kekayaan dengan  cara sekali tepuk saja. Tentu saja ada di antara mereka yang  berhasil dan menjadi kaya dalam sebentar saja.

Namun usaha ingin cepat untung banyak akhirnya membuat orang menjadi kurang ulet. Cukup memprihatinkan sebenarnya melihat bangkitnya pengusaha dengan melihat peluang musiman. Peluang musiman ini tentu saja menarik karena hasilnya cukup menggiurkan. Kita melihat begitu banyak pengusaha yang berguguran karena cara yang mereka tempuh dan mental mereka tidak dipersiapkan untuk suatu kegagalan. Masalah ini meliputi banyak hal, menyangkut kepemimpinan, psikologi, manajemen dan budaya. Adalah hak setiap orang untuk memutuskan bisnis apa yang hendak mereka jalani. Mereka juga punya hak untuk menetapkan segmen dan harga jual dari produk yang mereka hasilkan. Namun yang penting, kesiapan mental dari tiap pelaku bisnis ini yang penting. Bagaimanapun, sikap tekun dan ulet perlu dibina agar yang dikumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya benar-benar jadi bukit. Inilah pentingnya persistensi sebagai seorang entrepreneur!