Fung Fuk Lestario - Mentorship untuk Mendukung Kesuksesan Start-Up Bisnis

Anda pasti pernah mendengar bahwa sebuah negara dikatakan sebagai negara maju apabila mempunyai jumlah entrepreneur minimal 2% dari total penduduknya. Untuk menciptakan entrepreneur baru, tentunya dibutuhkan peran dan dukungan para mentor untuk membimbing para calon entrepreneur agar sukses mengeksekusi ide bisnisnya. Atas dasar tersebut, sebuah organisasi bernama Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) dibentuk untuk membantu memfasilitasi para entrepreneur dan inovator untuk mengembangkan bisnisnya dalam lingkup regional maupun global. Fokus utama yang menjadi tujuan dibentuknya GEPI adalah untuk menjadi sebuah wadah (platform) yang dapat menghubungkan para entrepreneur, investor global, dan pemerintah sehingga tercipta ekosistem bisnis yang mendukung. GEPI adalah bagian dari organisasi bernama Global Entrepreneurship Program (GEP) yang dicetuskan oleh Presiden Obama untuk mempromosikan entrepreneurship sebagai  pilar untuk menumbuhkan perekonomian negara-negara berkembang.

Berikut ini adalah interview dengan Fung Fuk Lestario, executive director dari Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI). Sosok yang pernah menjadi Co-Founder dan Managing Director Lazada Indonesia ini akan membahas tentang pentingnya mentorship dalam memulai suatu start-up bisnis.

Mengapa begitu penting untuk entrepreneur pemula belajar dan mendapatkan mentor sebelum mengeksekusi bisnisnya?

Mentorship itu sangat penting karena saat kita memulai, kita masih belum tahu keadaan real di lapangan. Selain itu, dalam mengembangkan bisnis kita juga butuh pengalaman. Jadi, edukasi entrepreneurship merupakan long-life learning yang sangat dibutuhkan terutama untuk para calon entrepreneur. Saat kuliah kita diajari tentang dasar-dasar entrepreneurship dan selanjutnya saat terjun di dunia entrepreneurship harus ada mentor-mentor yang siap membantu dan membimbing dalam artian ketika kita jatuh dan mengalami resiko yang berat, kita tidak akan menjadi terpuruk dan putus asa. Intinya, dalam bisnis kita harus terus belajar, edukasi itu harus terus menerus dan lebih bagus lagi jika ada yang membimbing dan mendukung kita seperti para mentor.

Dari pengalaman Anda bertemu dengan para entrepreneur muda, biasanya butuh waktu berapa lama untuk mempersiapkan bisnis tersebut sampai menjadi sukses?

Tidak ada ukuran waktu yang pasti, semuanya relatif karena tergantung business model, kemampuan, pengalaman, serta latar belakang pendidikan dari entrepreneur tersebut. Selain itu juga tergantung pada besar kecilnya bisnis.  Ada beberapa bisnis yang lebih simpel dari bisnis lainnya. Ada juga yang membutuhkan keterampilan atau keahlian khusus yang harus dipelajari dalam waktu yang lama. Jadi, itu semua tergantung pada bentuk bisnis dan kemampuan dari para calon entrepreneur itu sendiri.

Lalu, apa karakter dari calon entrepreneur yang lebih disukai para mentor?

Biasanya, mentor akan lebih suka dengan calon entrepreneurship yang ambisius, terbuka, mempunyai ide dan mimpi yang besar, serta kemauan keras untuk mewujudkannya. Jadi, tidak hanya bermimpi besar namun juga ada kemampuan untuk mengeksekusi. Mentor juga mempunyai keinginan untuk berkontribusi dalam kesuksesan anak didiknya. Ketika melihat anak didiknya menjadi tumbuh besar dan sukses, itu akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi para mentor.

Bagaimana cara untuk mendorong atau memberikan semangat ke lebih banyak anak muda untuk ber-entrepreneurship?

Yang paling utama, mereka harus banyak bertanya ketika menghadapi kesulitan maupun tantangan. Serta jangan takut gagal karena resource yang dapat membantu sangat banyak. Intinya kalau mempunyai ide, jangan pernah malu untuk mencari tahu lebih banyak. Sumber yang dapat kita gunakan dapat berasal dari manapun, seperti bertanya pada mentor, browsing di internet, meminjam buku di perpustakaan dan lain sebagainya. Jika sudah mempunyai kemauan dan tekad, maka ide tersebut harus kita coba dan eksekusi. Kita dapat belajar paling banyak dari hasil eksekusi yaitu ketika kita merasakan pahit manis ketika membangun sebuah start-up bisnis.