[Book Review ] “The Ahok Way” karya Pieter Randan Bua

Basuki Tjahaja Purnama (Zhong Wanxie) yang lebih dikenal dengan nama Ahok, lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966. Beliau memulai karir politiknya dari Belitung Timur dan terpilih menjadi anggota DPRD tingkat II Beltim 2004-2009. Beberapa bulan kemudian terpilih menjadi Bupati Belitung Timur sekaligus bupati pertama dari etnis Tionghoa. 16 bulan menjabat sebagai Bupati, Beliau maju mencalonkan diri dalam Pilgub Bangak Belitung 2007 tetapi gagal. Ahok ikut bertarung pada Pemilu Legislatif 2007 dan diluar dugaan meraup suara hamper 44% untuk melenggang dengan mudah ke Senayan. Di Senayan Ahok dikenal sebagai politisi apa adanya, bersih, transparan dan tanpa kompromi. Karena debutnya sebagai politisi yang melayani rakyat juga Beliau mendampingi Joko Widodo memimpin Jakarta periode 2012-2017.  Berikut adalah sekilas informasi yang akan UC Onliner dapatkan setelah membaca buku “The Ahok Way” karya Pieter Randan Bua.

Di dalam buku The Ahok Way ini, sang penulis buku menuliskan secara lengkap tentang pengalaman-pengalaman Ahok, tidak hanya pengalaman-pengalaman berpolitik tetapi juga pengalaman dari keluarganya. Pada saat UC Onliner’s membaca buku ini, UC Onliner’s akan menemukan bagaimana buruknya negeri ini dan bagaimana Ahok berjuang tanpa putus asa untuk membenahi ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi selama ia diberi kesempatan sebagai pejabat.

Ahok telah memilih jalan yang lurus untuk menegakkan kebenaran dan konstitusi, Ahok sadar bahwa ia harus melalui jalan yang terjal. Tetapi bagi Ahok jalan kebenaran yang ia tempuh meskipun terjal akan jauh lebih baik daripada jalan yang dianggap lurus tetapi berujung pada kematian, seperti korupsi, menjual kebenaran dan keadilan, manipulasi, dll). Ahok berkata, “Saya memilih taat pada konstitusi daripadd konsituen, apapun resikonya.”

Mesikpun ia sadar bahwa sebenarnya jalan yang ia tempuh bisa saja membuat dia harus siap mati, namun Ahok tidak takut mati, karena baginya menegakkan kebenaran dan memperjuangkan keadilan adalah keuntungan. Ia bahkan telah berpesan pada istrinya jika kelak suatu saat nyawanya harus melayang karena apa yang diperjuangkan maka saya minta dipulangkan dan dikuburkan di Belitung dan kalau mayat saya masih ditemukan. Jangan lupa pada batu nisan saya tulislah, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Ahok tidak takut mati karena semua orang juga pasti akan mengalaminya. Dia mengatakan seperti itu karena bagi dia percuma mati konyol dan di cap pembohong mendingan berusaha untuk hidup berbuat dalam kebenaran. Didalam berpolitik, Ahok menempuh Prophetical Voice yaitu sikap politik yang menyuarakan suara ‘kenabian’ yang membawa misi pembebasan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan serta melindungi mereka yang tidak berdaya. Bagi Ahok tidak ada kaum minoritas dan mayoritas, semua dianggapnya sama. Menurut Ahok yang di tulis didalam buku The Ahok Way mengatakan,

“tidak ada kau minoritas di bangsa ini dan tidak ada alasan seseorang menolak seseorang menjadi pemimpin karena agamanya di negara Pancasila, Indonesia tercinta. Bangsa  ini seharusnya tak memiliki warga kelas dua, kelas tiga, dan seterusnya. Tak ada mayoritas ataupun minoritas. Siapapun berhak ikut membangun bangsa ini.”

Dengan membaca buku The Ahok Way, UC Onliner’s dapat belajar juga dari cara Ahok memimpin. Mungkin tidak harus menjadi seperti Ahok, namun seorang sosok Ahok bisa menjadi inspirasi dan memotivasi para UC Onliner’s yang kelak bisa saja menjadi seorang pemimpin di masa mendatang. Jalan untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, banyak tantangan dan permasalaha yang dihadapi serta resiko. Tetapi jika harus menegakkan kebenaran maka jalanilah dengan memegang teguh apa yang menjadi kebenaran hingga bata akhir perjuangan dan akhiri-lah dengan baik.

Seperti Ahok maju dengan berani walaupun ketakutan juga sering menganggunya, didalam dunia politik serta budaya korupsi tidaklah mudah untuk ditangani tetapi disini Ahok mulai mendidik konstituennya yang sejak awal ia sudah katakan. Di dalam melakukan kampanye Ahok berbeda dengan calon penjabat lainnya, Ahok tidak memberikan apa pun kepada rakyatnya kecuali kartu nama dan nomor telpon pribadi miliknya. Inilah cara yang ampuh karena kelak masyarakat memilihnya sebagai bupati Belitung Timur.