Orang terkaya ke-8 Indonesia Yakin EQ Lebih Hebat dari IQ

Transient

Peter Sondakh adalah seorang pengusaha asal Malang yang berhasil dengan berbagai jenis usaha yang dikembangkannya dari nol. CEO dari beberapa perusahaan di Indonesia termasuk CEO dari Grup Rajawali ini lebih banyak menggunakan EQ dalam memecahkan masalah perusahan yang sulit, terutama yang bersinggungan dengan perilaku manusia termasuk para petinggi di perusahaan-perusahannya.

Saat terjadi konflik yang berkenaan dengan perilaku, maka yang terasa muncul adalah gesekan emosi negatif saat berinteraksi dan hal ini merupakan hal yang counter productive bagi perkembangan usahanya. Peter sangat menghargai Sumber Daya Manusia sebagai unsur terpenting dalam dunia usahanya. Karenanya, ia amat prihatin jika terjadi konflik dan ketidakkompakan di antara anak buahnya. Baginya, kohesitas adalah kekuatan dalam mencapai tujuan.

Dalam memecahkan masalah tersebut dia mengadakan perenungan dengan melibatkan unsur emosi dan akhirnya dia menemukan ilham yang kemudian diwujudkan dalam bentuk credo yang ditempel di pintu-pintu ruangan kerjanya. Hal itu membuat credo dapat dibaca terus menerus oleh anak buahnya. Credo ditulis dalam bahasa Inggris tapi sangat menyentuh emosi dan bermakna, contohnya;

If you seek peace, work for justice

Dikatakan menyentuh karena yang dikembangkan adalah rasa keadilan dalam artian bukan sekedar adil secara hukum namun istilahnya sangat mengena. Di samping justice juga terdapat fairness. Bermaksud untuk mengendalikan emosi agar lebih terarah.

Menurut Peter Sondakh, apabila masyarakat perusahaannya berbuat sesuatu yang dapat menjaga agar emosinya bisa diarahkan secara baik maka perilaku tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan budaya di dalam perusahaannya. Jadi apabila para anggota masyarakat perusahaannya menjaga rasa keadilan maka rasa tersebut akan membudaya hingga kemudian masyarakat tersebut bekerja dalam kedamaian.

Selain itu, dalam rangka memelihara semangat kerja dari bawahannya agar siap menghadapi kegagalan maupun keberhasilan, Peter membuat credo kedua yang berbunyi seperti berikut.

Hope and Dissappointment are twin brother.

Diharapkan agar seluruh jajaran pegawainya selalu siap menjaga keseimbangan emosi dan tidak bergembira yang berlebihan pada waktu berhasil, dan juga tidak terlalu putus asa dan patah hati apabila menemui kegagalan.

Menurut hasil pengamatan Peter sejak kedua credo tersebut diperkenalkan, maka perselisihan antar bawahan terasa jauh berkurang. Artinya mereka menjadi lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat dalam kesehariannya. Pengalaman Peter Sondakh ini menunjukan bahwa EQ mampu memecahkan masalah lebih efektif daripada IQ. Layaknya Slogan PT. Pegadaian, "Mengatasi Masalah Tanpa Masalah".

Dikutip dari buku "The Climber" karya Prof.Dr.Djokosantoso M