Kisah Pendiri WhatsApp dari Gelandangan menjadi Triliuner

Jan Koum lahir di sebuah desa di Kiev, Ukraina pada 24 Februari 1976. Koum anak tunggal dari pasangan ibu rumah tangga dan seorang manajer kosntruksi. Hidup di bawah rezim otoriter, membuat mereka tak betah. Saat umur 16 tahun, bersama ibunya dia hijrah ke Amerika Serikat. Mereka tinggal di sebuah apartemen sempit berkat bantuan pemerintah di Mountain View.

Untuk memenuhi kebutuhan, ibunya bekerja menjadi baby sitter. Sedangkan Koum membantu menjadi cleaning service di toko kelontong. Di usia 17 tahun, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan. Tidur beratap langit, beralaskan tanah. Hidup begitu pahit, begitu Koum membatin. Hidupnya kian terjal saat ibunya di diagnosa kanker. Mereka lalu hidup hanya dgn tunjangan kesehatan seadanya. 

Saat SMA, Koum suka belajar programming secara otodidak. Lewat buku bekas yang dia beli, dia belajar komputer jaringan. Koum bergabung dengan grup hacker dan sempat chating dengan pendiri Napster, Sean Fanning. Lepas SMA, Koum masuk ke San Jose University dengan pekerjaan sambilan sebagai pengetes keamanan di Ernst & Young.

Karena keahlian dan kemampuan Jan Koum sebagai programer, akhirnya dengan perjuanganya yang sangat gigih tersebut, Jan Koum diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo. Pada 1997, Koum mendaftar kerja di Yahoo dan diterima sebagai Infrastructure Engineer. Padahal saat itu Koum masih kuliah. Baru dua pekan kerja di Yahoo, Koum lalu memutuskan berhenti kuliah. Tiga tahun kemudian, ibunya meninggal dan Koum sebatang kara. Ia bekerja di yahoo selama 10 tahun hingga pada tahun 2009 bersama Brian Acton memutuskan untuk keluar dari Yahoo dan membuat aplikasi yang kini mengubah hidup mereka, WhatsApp. Setelah resign dari Yahoo, mereka berdua sempat melamar ke Google namun ditolak. Banyak orang beranggapan jika Google mungkin menyesal seumur hidup karena sudah menolak lamaran Jan Koum dan Brian Acton saat itu.

Setelah WhatsApp resmi dibeli seharga 209 Triliun, Jan Koum melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu setiap pagi antri untk dapat jatah makan. Saat ia masih miskin berusia 17 tahun. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri. Mengenang saat bahkan untuk makan ia tidak punya uang.  
Pelan-pelan air matanya meleleh. Ia lalu terkenang ibunya yang telah meninggal. Ibunya yang rela menjahit baju untuk dia demi menghemat, "Tak ada uang, nak".  Jan Koum tercenung, ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita ini kepada ibunya. 
"Di tempat ini, nasib hidup saya pernah dipertaruhkan" kalimat inilah yang tersirat dari raut wajah Jan Koum.  

Keberuntungan  mungkin datang dari arah yg tak terduga. Remaja miskin yang dulu dapat jatah makan itu kini menjadi Triliuner. Sebuah perjalanan yang tidak ia dapat dengan mudah, dibalik kisah kebahagiaan dan kesuksesan Jan Koum, disana ada kisah perjuangan, Kerja Keras, Mimpi besar, Belajar dan terus belajar untuk mencapai mimpi-mimpi besarnya hingga akhirnya tercapai.


Sumber Inspirasi: http://aribicara.com