XL akan segera Merger dengan Axis

Transient

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah menyetujui rencana merger XL Axiata dan Axis Telekom Indonesia, hal ini membuat seluruh regulator di Indonesia telah setuju dengan aksi korporasi ini. KPPU menilai tidak akan khawatir dengan adanya praktik monopoli dan persaingan tidak sehat yang disebabkan oleh merger kedua operator tersebut.

Sebelumnya, XL juga telah memperoleh persetujuan dari Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo), pemegang saham XL melalui RUPSLB, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Bursa Efek Indonesia terkait rencana merger akuisisi ini. Selain itu, XL dan Axis juga telah memperoleh persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"XL Axiata telah menerima persetujuan dari KPPU pada 6 Maret 2014," ungkap Sekretaris Perusahaan XL Axiata Murni Nurdini. Sebelumnya, Direktur Utama XL, Axiata Hasnul Suhaimi mengatakan, pihaknya optimis rencana merger dan akuisisi Axis bisa rampung pada akhir Maret 2014.

Hasnul menuturkan, merger XL-Axis tidak akan menciptakan ruang monopoli dari sisi pasar. Jumlah total pelanggan XL-Axis pasca-merger nanti akan lebih dari 65 juta, yang mewakili sekitar 21% pangsa pasar. Angka ini masih jauh jika dibandingkan pangsa pasar Telkomsel yang mencapai 131,5 juta pelanggan pada 2013. Namun, jumlah pelanggan XL-Axis akan melampaui Indosat yang memiliki 59,6 juta pelanggan pada 2013.

XL Axiata akan mengakuisisi 95% saham Axis senilai US$ 865 juta atau sekitar Rp 10,5 triliun. Sumber dana berasal dari pinjaman Axiata Group Bhd, induk usaha XL Axiata, sebesar US$ 500 juta. Sisanya US$ 365 juta dari pinjaman bank.

Selanjutnya, masih ada proses administrasi yang harus diselesaikan di internal XL untuk closing akuisisi . Kepada para regulator, XL berjanji untuk tetap menawarkan produk yang terjangkau, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas pasar, agar dampak merger bisa dinikmati masyarakat. "Terwujudnya merger XL-Axis akan memberikan manfaat dan keuntungan yang besar kepada pelanggan, serta menciptakan industri telekomunikasi yang akan semakin sehat,” tambah Hasnul.