Forum Diskusi T100 bersama Harun Hajadi

Pada minggu lalu, tim UCEO berkesempatan bertemu dengan Bapak Harun Hajadi, Managing Director Grup Ciputra. Pada kesempatan tersebut pula Bapak Harun Hajadi meluangkan waktunya untuk menjawab beberapa pertanyaan dari para peserta T100 yang bertanya via Forum Piazza. Berikut adalah tanggapan dari beliau, semoga bermanfaat.


Pertanyaan pertama dari Stevan Loren Widyasmoro

Saya mempunyai website PasarMobilOnline.com yang tujuannya untuk periklanan mobil, namun saya menyerah karena saya tidak fokus dalam me-maintenance website tersebut karena saya disibukkan dengan pekerjaan dan saya kurang memahami bidang otomotif. Saya pernah meniru website lain yang lebih informatif dan menarik namun karena kurang tekun dan ilmu mengenai otomotif terlalu sedikit saya kesulitan mengembangkan website saya ini.

Bagaimana menurut teman - teman ? Apakah lebih baik saya mencari ide alternatif usaha sesuai dengan passion dan kapabilitas saya? atau tetap melanjutkan usaha ini?

Jawaban Bapak Harun Hajadi,

Kepada Stefan, Salam entrepreneur !
Suatu pekerjaan hanya bisa kita kerjakan dengan sukses jika kita memiliki 'passion'. Passion artinya gairah, sehingga dalam proses pengerjaannya kita memberikan totalitas, pada malam hari kita susah tidur karena memikirkan hal tersebut, pagi2 ketika kita membuka mata hal pertama yang kita pikirkan adalah pekerjaan tersebut. Jika anda belum seperti itu, ganti saja ke venture lain. Keahlian pada bidangnya biasanya tidak terlalu penting untuk kesuksesan, keahlian akan datang dengan sendirinya ketika kita passionate mengerjakannya, akan menjadi ahli dengan sendirinya. Passion adalah salah satu kunci sukses penting seorang entrepreneur, apalagi di awal2.

Pertanyaan kedua dari Nico Nugraha Hadinata

Perkenalkan, nama saya Nico. Saat ini saya sedang kuliah semester 6 di universitas swasta di Malang. Sejak tahun 2012 akhir, saya memutuskan untuk menjadi Entrepreneur dengan menjual baju secara online. Keuntungan waktu itu cukup besar untuk mahasiswa yang dicukupi semua kebutuhan oleh ortu. Menjelang akhir 2013, nilai dolar terlalu kuat bagi rupiah, dan mendesak rupiah dari 9800 an menjadi 12.300 an. Penjualan menurun drastis, karena harga jual baju impor jualan saya menjadi lebih mahal.

Ada beberapa masalah saya untuk bertumbuh: 1. Harga baju terlampau mahal karena impor dan kurs rupiah jeblok, sementara itu banyak produsen lokal yang menjiplak dan jual dengan harga beda jauh. Selain itu, banyak reseller yang merusak harga, memperkecil margin tanpa memperhitungkan efek dominonya. Akibatnya harganya jatuh. Apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal ini ?
2. Saat ini, saya kuliah, kerja tugas, sambil main jualan online, sambil main MLM dalam sekali waktu. Sementara saya berencana menambah mainan clothing merk sendiri dan main reksadana. Bagaimana agar saya bisa membagi waktu agar bisa mengembangkan bisnis saya?


Jawab Harun Hajadi,

Kepada Nico, salam entrepreneur !
Karena anda sudah bermain di e-commerce, sebenarnya pasar yg anda geluti tidak terbatas. Coba dipikirkan bagaimana anda menjual sebaliknya, yaitu meng-export produk Indonesia keluar, sehingga diversifikasi usaha ini dapat meng hedge fluktuasi nilai tukar mata uang. Saya orang yg paling tidak percaya merangkap-rangkap pekerjaan, apalagi di awal-awal usaha kita. Menurut saya, Anda fokus saja di hal pertama, yang anda paling passionate. Jangan menyerah dan mencoba hal baru sebelum anda sukses, kecuali Anda sudah memutuskan bahwa Anda tidak mempunyai passion dibidang itu.


Pertanyaan ke-3 dari Nani Kartini

Bekerja menjadi karyawan selama 23 tahun membuat saya jenuh dan akhirnya memutuskan untuk keluar. Dengan datang ke seminar motivator dan franchise mengenai kuliner, akhirnya saya memberanikan diri untuk berjualan di event perkantoran yang diadakan tiap bulan. Dengan bantuan asisten di rumah, kami mulai berjualan somay mini, wajik ketan, pastel mini, dan es rujak mangga yang kami buat sendiri. Namun setelah 4 hari pameran produk kami laku tak lebih dari masing - masing 5 porsi saja, yang akhirnya kami mengalami kerugian.

Evaluasi saya:
Konsumen (karyawan gedung/peserta bazaar) lebih tertarik pada makanan berat
Sebaiknya jenis makanan maksimal 2
Tulisan pada banner harus eye-catching

Berdasarkan pengalaman pertama saya mencoba di bulan berikutnya dengan “Nasi Uduk Kebon Nanas”, dan hasilnya cukup memuaskan sampai butuh 3 orang untuk menangani pesanan.

Evaluasi saya :
1. Penjualan bagus hanya ketika jam sibuk (jam istirahat) saja, selebihnya biasa-biasa saja - konsumen terbatas.
2. Penjual makanan sejenis (makanan berat) dalam satu bazaar sebaiknya dibatasi, supaya tenant bisa memperoleh margin yang optimal. (pada saat itu terdapat 6 penjual makanan berat).

Dengan pengalaman diatas saya berencana membuka di stan pusat perbelanjaan, atau event bazaar yang lebih besar dengan harapan mendapatkan konsumen lebih banyak. Apa strategi yang bisa saya tambahkan untuk rencana baru ini?

Tanggapan Harun Hajadi,

Kepada Nani, salam entrepreneur,
Untuk industri retail, faktor terpenting adalah traffic, makanya menurut saya pedagang kaki lima itu yg paling pintar memposisikan mereka harus berada dimana. Jika makanan anda adalah produk yg tidak 'lifestyle', maka anda tidak perlu masuk ke pusat perbelanjaan. Coba anda minta tempat di seluruh stasiun MRT di Jakarta sebagai investasi jangka panjang, karena prosesnya akan panjang, dan memerlukan  endurance yg kuat untuk mendapatkan lokasi tersebut. Pada akhirnya nilai anda yg terbesar nantinya adalah lokasi yg anda miliki.