Kisah Sukses Kevin Systrom, Pendiri Instagram

Credit Image: talkvietnam.com

Credit Image: talkvietnam.com

Kevin Systrom, UC Onliners sudah akrab dengan nama itu? Atau Anda baru kali ini mendengarnya? Bagaimana dengan aplikasi media sosial Instagram? Pasti UC Onliners sudah banyak yang tahu. Instagram adalah situs media sosial yang sedang booming saat ini. Aplikasinya bisa didownload oleh para pengguna android. Apa saja sih yang ada dalam Instagram? Instagram menyediakan wadah buat para penggunanya untuk membagikan foto-foto. Mereka bisa menuliskan juga caption fotonya, bisa saling memberi komentar juga memberi like.

Kevin Systrom adalah orang dibalik kesuksesan Instagram. Systrom, lulusan Stanford University jurusan Management Science dan Engineering ini awalnya mengawali karir di Google. Secara spesifik, ia bekerja mengelola Gmail dan Google Reader, lalu selanjutnya ia bekerja di bagian tim Corporate Development. Systrom memiliki passion atau gairah untuk menciptakan sebuah media sosial yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara lebih mudah. Pada awalnya, Systrom menghabiskan waktu akhir minggunya untuk membuat sebuah aplikasi yang dapat digunakan untuk mempublikasikan foto beserta lokasi terjadinya peristiwa dalam foto. Ia juga menyediakan tempat di mana pengguna bisa menuliskan caption atau note yang berisi deskripsi foto tersebut. Selain bisa mempublikasikan foto, aplikasi tersebut juga bisa digunakan untuk mempublikasikan cerita, seperti mini blog. Aplikasi yang sedang dibuat oleh Systrom ini dinamainya Burbn.

Tidak sendiri, akhirnya Systrom bertemu dengan Mike Krieger, yang nantinya akan menjadi co-founder Instagram. Krieger adalah pengguna awal Burbn yang sangat antusias. Bertemu lewat dunia maya, ternyata mereka sama-sama pernah menempuh pendidikan di Stanford University Mayfield Fellows program, yang mengajarkan kepada mahasiswanya mengenai kesuksesan dan kegagalan start-up bisnis, serta memberikan kepada mereka jatah magang dengan perusahaan yang sudah maju dan mereka juga diberi kesempatan untuk memulai bisnis yang ingin mereka jalani. Mereka mengubah Burbn menjadi sebuah aplikasi yang dikhususkan untuk saling berbagi foto, dan mereka menyebutnya Instagram. Systrom mengatakan, tujuan mereka membuat Instagram bukan hanya untuk menciptakan sebuah aplikasi berbagi foto. Mereka ingin menyediakan tempat bagi para penggunanya untuk berbagi kisah kehidupan yang sedang mereka jalani.

Baru dibuat sekitar 4 tahun yang lalu, Instagram sudah dan sedang mengalami perkembangan yang pesat. Berawal dari 4 orang pegawai yang mengurus 4 juta pengguna, kini jumlah pegawai ada 12 orang dengan jumlah pengguna lebih dari 27 juta di seluruh dunia. Systrom berkata, “Kini ada sekitar 55 juta foto yang dipos perharinya di Instagram. Jadi, eksplorasi dan penemuan adalah konsentrasi utama kami. Jika Anda melihat sesuati yang menarik terjadi di Syria, atau Mesir, kami ingin memberi masyarakat kesempatan untuk menyiarkannya ke seluruh dunia.”

Fitur yang ada di dalam Instagram pun terus di-update atau diperbaharui. UC Onliners pasti tahu bahwa di Instagram, sebelum mempublikasikan foto, kita diberikan pilihan filter. Fitur ini dibuat karena Systrom merasa, filter dapat “menyuarakan” dan “memberi warna” pada peristiwa-peristiwa yang terekam dalam gambar. Jenis-jenis filter ini juga terus ditambahkan oleh tim Instagram. Tidak hanya filter, sejak Juni 2013 Instagram juga menyediakan fitur publikasi video. Dan fitur baru ini langsung mengalahkan Vine, aplikasi video sharing yang diluncurkan oleh Twitter. Video yang durasinya dibatasi selama 15 detik ini banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan fashion, untuk mempublikasikan produk-produknya.

Systrom mengatakan, dirinya masih memiliki visi yang besar terhadap perkembangan Instagram. Ia masih ingin mendominasi mata-mata dunia untuk melihat aplikasi yang dibuatnya ini. “Lima tahun lagi,” kata Systrom, “Instagram akan ada di mana saja – di segala platform, di semua jenis telepon genggam, tablet, dan semua hal yang dapat kita pakai, untuk menjadi komponen inti di mana orang bisa berbagi. Lima tahun lagi, saya ingin tidak hanya lagi melihat sharing sari teman-teman saya, tetapi saya juga ingin melihat berita pagi di Instagram, dari berbagai channels.”

”I want Instagram to be the place I learn about the world,” ujar Systrom.