5 Fakta Polusi di Indonesia

Ingat pelajaran IPS saat Sekolah Dasar? Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Bapak/Ibu Guru kita mengajarkan pernyataan ini pada kita : Indonesia adalah paru-paru dunia. Pernyataan tersebut muncul karena Indonesia memiliki wilayah perhutanan yang sangat luas, mencakup 60% dari keseluruhan luas wilayah di Indonesia. Bahkan, Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar ke-3 di dunia. Ciri-ciri dari hutan hujan tropis adalah pohon-pohon yang tinggi, lebat, rapat, iklim yang hangat, serta curah hujan yang tinggi. Benarlah pernyataan yang diajarkan oleh Bapak/Ibu Guru kita, bahwa sebagian populasi dunia bergantung pada keberadaan hutan hujan tropis di Indonesia ini.

Pertanyaannya adalah, apakah pernyataan tersebut masih relevan sampai saat ini? Sayangnya, tidak. Jika kita mengikuti pemberitaan beberapa media besar internasional mengenai polusi di dunia, kita sebagai warga Indonesia akan malu. Hutan kita, yang sepuluh atau dua puluh tahun lalu digadang-gadang menjadi paru-paru dunia, ternyata malah menyebabkan masalah polusi, yang tidak hanya mencemari negara kita sendiri namun juga negara-negara tetangga. Polusi yang dikirim oleh hutan Indonesia ini dikecam oleh pemerintah negara lain dan berbagai media besar dunia, sehingga presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono harus meminta maaf kepada mereka. Memalukan bukan? Itu baru permulaan saja. Pada artikel ini, UCEO ingin berbagi kepada UC Onliners sekalian, mengenai 5 fakta betapa ironisnya keberadaan polusi di Indonesia.

Image Credit : http://cdn.coastalcare.org

Image Credit : http://cdn.coastalcare.org

Fakta 1 : Ternyata, luasnya lahan di Indonesia malah menimbulkan masalah.

Sebagai negara yang memiliki wilayah lahan hijau yang luas, ternyata masyarakat Indonesia tidak sadar dengan dampak negatif yang mungkin dimiliki. Bila kita logikakan, luasnya wilayah lahan hijau ini sebenarnya membawa kerugian juga bagi kita, yaitu adanya pencemaran yang juga meluas. Alasan pertama mengapa hutan di Indonesia menyumbang volume polusi udara yang besar adalah karena luas wilayahnya yang juga besar. Demikian halnya dengan wilayah perairan. Negara kita juga sering dikritik karena kondisi air yang tercemar polusi. Tentu kita bisa menggunakan logika, bahwa dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan, yang berarti bahwa potensi terjadinya polusi memang lebih besar dibandingkan negara lain yang wilayah perairannya lebih kecil.

Fakta 2 : Kebakaran hutan di Indonesia menyebarkan polusi ke negara-negara tetangga.

Fakta inilah yang disebut-sebut oleh UCEO di atas. Mengapa hutan-hutan di Indonesia menyebarkan polusi? Karena kebakaran. Bulan Maret lalu, kejadian ini sangat mempermalukan Indonesia. Kebakaran hutan di Sumatera, tepatnya di Riau, menuai kecaman karena asapnya melintasi wilayah-wilayah negara di Benua Asia, terutama Asia Tenggara. Jauh di atas permukaan hutan di Sumatera, satelit mengidentifikasi ratusan asap yang berasal dari hutan hujan dan perkebunan kelapa sawit. Hal ini berdampak pada negara-negara di wilayah Asia Tenggara, yang berada di sekitar Indonesia. Masyarakat negara-negara di Asia Tenggara mengalami batuk selama berminggu-minggu, pakaian yang berbau tanaman yang terbakar bercampur dengan polusi pabrik, serta debu dan asap kendaraan. Bahkan, sekolah-sekolah serta bandara ditutup karena adanya polusi kiriman dari Indonesia ini. Karena mengakibatkan permasalahan tersebut, Indonesia dimasukkan dalam daftar 5 besar penyumbang polusi gas rumah kaca terbesar di dunia. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah yang menyebabkan kebakaran hutan di Indonesia ini?

Fakta 3 : Masyarakat Indonesia-lah yang membakar hutannya.

Miris memang. Dalam permintaan maafnya kepada negara-negara yang tercemari polusi udara ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa 70% kebakaran hutan di Indonesia disebabkan karena pemilik lahan menginginkan lahan yang bersih, sehingga mereka membakar hutan secara rutin. Media-media internasional menyebut kebiasaan pemilik lahan Indonesia ini sebagai “pembersihan lahan”, yang berarti mereka sudah mengenal, bahwa gaya pembersihan lahan di Indonesia adalah pembakaran hutan besar-besaran. Malu tidak?

Fakta 4 : Meski memiliki perairan yang luas, masyarakat Indonesia sulit mendapatkan air bersih.

Indonesia memiliki luas wilayah perairan yang bila ditotal, mencakup 6% dari sumber air di seluruh dunia, serta 21% total sumber air di wilayah Asia-Pasifik. Namun ironisnya, masyarakat Indonesia ternyata susah mendapatkan air bersih. Statistik mengatakan bahwa sedikitnya, 80% dari 250 juta penduduk Indonesia ternyata tidak memiliki akses air pipa. Masyarakat Indonesia juga masih menggunakan air sungai untuk masak, mencuci, serta minum. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan kualitas sumber air di Indonesia. Yang pertama adalah sampah rumah tangga. Data menunjukkan bahwa dari 51.372.661 perumahan di Indonesia, hanya ada 42,8% di antaranya yang melakukan pengolahan sampah. Sisanya, sekitar 56,15% rumah tangga, membuang sampah rumah tangga mereka begitu saja di sungai. Yang kedua adalah adanya aktivitas domestik, seperti aktivitas industri, yang sebagian besar residunya di buang di sungai dan laut.

Fakta 5 : Sungai Citarum adalah sungai paling ter-polusi di dunia.

Sungai Citarum, yang menyediakan 80% dari air permukaan Jakarta dan mengirigasi pertanian yang mensuplai 5% dari pertanian padi di Indonesia, ternyata merupakan sungai terpolusi di dunia. Peringkat ini diberikan oleh organisasi lingkungan, Green Cross Switzerland, dan organisasi nonprofit internasional, Blacksmith Institute. Selain ditemukan kandungan merkuri yang berbahaya, juga ditemukan sampah dari pertambangan dan sampah perkebunan kelapa sawit pada sungai Citarum. Menurut Hendri Bastaman, Menteri Lingkungan Indonesia, penyebab dari adanya polusi yang semakin memburuk ini adalah aktivitas manusia serta industri di sekitarnya. Manusia menyumbang polusi dengan melakukan mandi-cuci-kakus (MCK) di sungai, sehingga sungai tercemar detergen. Lalu, kegiatan indurstri juga menyebabkan sungai tercemar merkuri. Sanitasi dan kebersihan yang buruk ini menyebabkan 50.000 kematian per tahun di Indonesia, dengan sampah limbah yang mencapai 6 juta ton. Sampah ini terdiri dari sampah yang dihasilkan oleh manusia, yang dibuang langsung ke perairan tanpa diolah. Data tersebut diambil dari penelitian yang sampai sekarang masih dilakukan oleh World Bank.

Salah satu syarat untuk disebut entrepreneur adalah memberi dampak bagi lingkungan dan sesama. Nah, isu polusi di Indonesia ini perlu diperhatikan oleh UC Onliners sekalian. Jadilah entrepreneur yang peduli dengan keberadaan lingkungan. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia , 5 Juni 2014 !

Sumber :