[Refleksi] Wujudkan Mimpi, Bukan Kembali Bermimpi

Transient

Selama kita masih hidup, kita pasti masih memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang harus di selesaikan. Seperti konsep hak asasi manusia yang menyatakan bahwa kita telah memiliki hak–hak tertentu yang dimiliki sejak dilahirkan, begitu pula dengan kewajiban yang kita miliki. Kebiasaan manusia pada umumnya adalah selalu mengingat apa yang menjadi haknya dan cenderung melupakan hal–hal yang menjadi kewajibannya. Sehingga marilah kita mulai sadari apa saja kewajiban yang harus kita pertanggung jawabkan dan tidak hanya menuntut serta menerima hak tanpa menyelesaikan kewajiban yang kita miliki.

Wujudkan Mimpi, Bukan Kembali Bermimpi

Saat – saat kritis di pagi hari adalah pada saat bangun pagi. Sebagian besar orang pasti pernah merasa malas untuk beranjak dari tempat tidur yang nyaman dan terus memanggil –manggil kita di pagi hari. Namun, masa sulit yang harus kita hadapi adalah di saat kita harus menentukan pilihan apakah kita akan bangun lalu mulai beraktivitas atau kembali tidur dan kembali bermimpi. Dari pada melanjutkan bermimpi yang tidak akan pernah ada habisnya, sebaiknya kita mulai mewujudkan mimpi–mimpi kita. Perencanaan yang baik dan matang itu bagus, tetapi jangan terus menerus berencana mulailah mewujudkan rencana–rencana tersebut agar bisa berdampak pula pada orang lain. Seperti saat kita di tempat tidur, jika kita tidak mulai bangun maka kita tidak akan memulai aktivitas apa pun. Begitu pula dengan kewajiban yang kita miliki, jika kita tidak memulai kewajiban–kewajiban kita dan hanya terus berencana untuk mengerjakannya dengan cara ini dan itu maka kita tidak akan pernah menyelesaikannya.

The Power of Kepepet

Tidak dipungkiri banyak orang yang akan mulai melakukan kewajibannya saat waktu yang dimilikinya sudah hampir habis. Sebagai mahasiswa pasti banyak yang mengerjakan tugas dua hari sebelum tugas dikumpulkan dan bahkan ada yang memulainya beberapa jam sebelumnya, padahal waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas–tugas tersebut cukup panjang dan lama sehingga tugas – tugas itu hasilnya bisa dimaksimalkan. Mulailah dari kewajiban yang kita miliki sesegera mungkin dan tidak hanya menunggu hingga waktu tertentu untuk mengerjakannya agar kita bisa memaksimalkan hasilnya.

Beberapa waktu yang lalu muncul sebuah konsep yang sangat menarik, “The Power of Kepepet”. Dalam teori tersebut dinyatakan bahwa tiap orang memiliki kekuatan melebihi apa yang dipikirkannya, dan kekuatan tersebut akan muncul jika kita berada di dalam kondisi terdesak. Konsep ini cukup menarik, karena hal ini banyak terjadi dan ada banyak sekali orang yang bisa menjadi sukses karena kepepet. Tetapi pada umumnya masih banyak juga orang yang gagal karena tidak kunjung memulai pekerjaannya dan menunggu waktu–waktu kritis sehingga mereka tidak mampu menyelesaikan kewajiban–kewajiban yang dimiliki.

Done is Better Than Perfect

Mengerjakan kewajiban jauh–jauh hari agar mendapatkan hasil yang baik dan sempurna memanglah sangat baik dan patut dijadikan acuan dalam hidup kita, tetapi menyelesaikan kewajiban kita jauh lebih baik dari pada membuatnya jadi sempurna. Kesempurnaan memang membutuhkan waktu yang lama untuk digapai, sedangkan kewajiban yang kita miliki terkadang hanya memiliki waktu yang terbatas untuk diselesaikan. Pada kondisi yang demikian dari pada hanya mengejar kesempurnaan yang berimbas pada tidak terselesaikannya tugas kita lebih baik kita menyelesaikannya sebaik mungkin dan diperbaiki serta disempurnakan jika ada waktu sisa yang bisa kita manfaatkan.

Sadar diri atas kewajiban yang kita miliki memang penting, menyelesaikannya dengan baik juga sama pentingnya. Tetapi lebih penting lagi untuk kita memaknai hidup kita dan membuatnya berharga, jangan sampai kewajiban yang kita miliki menjadi hal yang mengganggu dan membuat hidup kita jadi tidak bahagia.