Oposisi, Koalisi dan Reposisi

ILUSTRASI OPOSISI (SAMUEL/UCEO)

ILUSTRASI OPOSISI (SAMUEL/UCEO)

Apa yang akan muncul di pikiran Anda jika mendengar kata dunia politik? Mungkin sebagian dari Anda akan malas untuk membahasnya, sebagian yang lain akan merasa antusias atau malah biasa-biasa saja. Dunia politik memang seringkali dihubungkan dengan hal-hal yang negatif, sehingga tidak banyak orang yang tertarik untuk terlibat lebih jauh di dalamnya.

Di dalam dunia politik, terdapat istilah-istilah politik yang seringkali kita dengar. Salah satu dari istilah politik yang familiar di telinga kita adalah kata oposisi. Oposisi erat kaitannya dengan partai politik. Setiap kali masa pergantian presiden, selalu ada partai politik yang menyatakan diri sebagai partai oposisi. Apa sebenarnya arti dari oposisi? Apa bedanya dengan koalisi dan reposisi? Dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai oposisi serta perbandingannya dengan koalisi dan reposisi. 

ILUSTRASI ARTI KATA OPOSISI (SAMUEL/UCEO)

ILUSTRASI ARTI KATA OPOSISI (SAMUEL/UCEO)

ARTI KATA OPOSISI, KOALISI DAN REPOSISI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata oposisi didefinisikan dalam dua bidang yang berbeda. Pada dunia politik, arti kata oposisi dimaknai sebagai ‘partai penentang di dewan perwakilan dan sebagainya yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa’. Sementara dalam bidang linguistik, arti kata oposisi dimaknai sebagai ‘pertentangan antara dua unsur bahasa untuk memperlihatkan perbedaan arti’.

Dari kedua arti kata oposisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata oposisi dalam pemaknaan linguistik nampaknya kurang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia lebih sering mengaitkan arti kata oposisi dengan dunia politik. Orang-orang pun masih sering mendefinisikan arti kata oposisi sebagai sesuatu yang berlawanan dengan arti kata koalisi. Padahal arti kata oposisi bukanlah antonim dariarti kata koalisi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata koalisi adalah ‘kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen’. Arti kata koalisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ini memang lebih cenderung ke dalam dunia politik. Sebuah partai politik tidak akan mampu mengusung calon presiden dan calon wakil presiden tanpa berkoalisi. Hal ini disebabkan karena umumnya jumlah suara pemilih dalam suatu partai politik tidak akan cukup untuk memenuhi batas minimum suara yang diperlukan dalam mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Berdasarkan definisi tersebut, partai politik dalam pemerintahan seakan terbagi dalam dua kubu. Kalau tidak menjadi partai koalisi berarti menjadi partai oposisi. Hal ini lah yang menyebabkan kebanyakan orang berpikir jika arti kata koalisi dan arti kata oposisi merupakan dua kata yang saling berlawanan. Kenyataannya, koalisi bukanlah antonim dari oposisi. Arti kata koalisi bersinonim dengan kata aliansi, asosiasi dan federasi yang memiliki makna ‘bergabung’. Sedangkan arti kata oposisi bersinonim dengan kata antagonisme dan antitesis yang bermakna ‘bertentangan’. Seperti yang kita tahu, bergabung dan bertentangan bukanlah dua kata yang dapat diantonimkan.

Sementara itu, arti kata reposisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai penempatan kembali ke posisi semula, penataan kembali posisi yang ada, serta penempatan ke posisi yang berbeda atau baru. Dalam dunia politik, arti kata reposisi lebih mengarah pada penataan kembali posisi orang-orang yang duduk dalam kursi pemerintahan. Pada bulan November tahun 2015 lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo melakukan reposisi pada kabinetnya atau yang lebih dikenal dengan istilah reshuffle kabinet. Reposisi ini sangat wajar dilakukan dalam sebuah pemerintahan karena Presiden memiliki hak prerogatif untuk menentukan menteri-menteri yang akan membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan.

A photo posted by UCEO (@ciputrauceo) on

BERBAGAI MACAM OPOSISI

Kehadiran partai oposisi dalam pemerintahan merupakan hal yang sangat penting, utamanya untuk negara dengan sistem pemerintahan demokratis. Sesuai dengan quotes ‘Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely’ dari Lord Acton, sebuah pemerintahan yang absolut diyakini akan melahirkan keburukan yang absolut pula. Karena hal itulah, pemerintah membutuhkan kelompok oposisi untuk menjaga supaya pemerintahannya tidak absolut dan berimbang.

Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan di dunia, oposisi akhirnya muncul dalam beberapa varian konseptual. Saat ini setidaknya ada empat konsep oposisi yang pernah berkembang di berbagai dunia:

1. Oposisi Seremonial

Konsep oposisi yang pertama adalah oposisi seremonial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seremonial dimaknai sebagai sesuatu yang bersikap upacara atau seremoni. Tetapi apabila kita maknai lebih jauh, seremoni dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat resmi dan formal. Berdasarkan definisi tersebut, oposisi seremonial dapat diartikan sebagai konsep ‘oposisi tipu-tipu’ atau oposisi yang dibentuk hanya untuk formalitas saja. Oposisi seremonial sengaja dibentuk oleh pemerintah yang berkuasa supaya rakyat melihat sistem pemerintahan yang ada seakan-akan seimbang. Padahal, segala hal yang ada pada oposisi seremonial telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah berkuasa. Orang-orang yang berada dalam oposisi, kedudukan, fungsi, hingga keputusan-keputusan yang diberikan telah ditentukan oleh penguasa.

Konsep oposisi seperti ini mungkin akan berhasil mendukung pemerintah di awal-awal masa pemerintahan, namun konsep ini justru dapat menjatuhkan pemerintah ketika rakyat mulai sadar jika selama ini mereka dibodohi. Rakyat yang jengah dan rindu akan perubahan akan memuncak hingga akhirnya membentuk gerakan oposisi non-formal untuk menggulingkan pemerintahan yang berkuasa saat itu.

2. Oposisi Destruktuf Oportunis

Oposisi destruktif oportunis adalah konsep oposisi yang selalu berusaha untuk merusak citra pemerintahan melalui cara apapun. Segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah akan selalu dikritik dan dicari kesalahannya, bahkan ketika kebijakan tersebut sesungguhnya baik untuk rakyat. Kelemahan-kelemahan pemerintah yang disorot dalam konsep oposisi destruktif-oportunis ini diharapkan dapat merusak kewibawaan penguasa sehingga golongan oposisi dapat melakukan kudeta secara mudah. Tujuan dari golongan oposisi destruktif oportunis ini adalah untuk menjatuhkan penguasa secepat mungkin sehingga mereka dapat mengambil alih pemerintah.

3. Oposisi Fundamental Ideologis

Oposisi fundamental ideologis merupakan konsep oposisi yang tidak jauh berbeda dengan oposisi kedua, yakni oposisi destruktif oportunis. Kedua konsep oposisi ini sama-sama menginginkan kejatuhan penguasa supaya dapat digantikan oleh penguasa yang lain. Satu hal yang membuat kedua konsep oposisi ini berbeda adalah adanya unsur ideologi yang dibawa dalam oposisi fundamental ideologis.

Konsep oposisi fundamental ideologis merupakan konsep oposisi yang tidak sekadar menginginkan adanya penggantian penguasa, namun sampai ke tataran ideologis. Mereka menganggap jika dasar negara yang dianut selama ini tidak tepat, sehingga ingin mengganti dengan dasar negara yang mereka anggap lebih baik. Kaum oposisi fundamental ideologis ini tergerak menjadi oposisi karena dorongan faham. Entah itu bersandar pada religi, sosialisme, komunisme, nasionalisme, pluralisme dan lain lain.

4. Oposisi Konstruktif Demokratis

Kelompok oposisi konstruktif demokratis dapat disebut sebagai konsep oposisi yang paling baik dibandingkan tiga konsep oposisi sebelumnya. Konsep oposisi konstruktif demokratis terbentuk sebagai bentuk perjuangan golongan oposisi untuk kepentingan masyarakat umum. Jika tiga konsep oposisi sebelumnya justru berpotensi mengacaukan tatanan yang ada karena hanya akan menggantikan otoritarian lama dengan otoritarian yang baru, maka oposisi konstruktif demokratis berfungsi untuk menciptakan keseimbangan yang sesungguhnya.

Konseop oposisi konstruktif demokratis akan melakukan kritik kepada pemerintah jika kebijakan pemerintah dinilai merupakan rakyat. Kelompok oposisi ini juga tetap mampu melihat sisi positif yang telah dicapai oleh pemerintah sehingga rakyat dapat menilai pemerintahan secara seimbang. Kelompok oposisi konstruktif demokratif tidak pernah berniat untuk menggulingkan kekuasaan yang ada untuk digantikan dengan kekuasaan tertentu. Kelompok oposisi ini hanya akan bertindak ekstrem jika tingkah pemerintahan yang berkuasa sudah keterlaluan dan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat tidak dapat dicegah lagi.

 

IKUTI KULIAH BISNIS ONLINE & GRATIS UCEO

Bila selama ini anda mengalami kesulitan dalam menjual produk / jasa anda, maka pembelajaran KEJAR TARGET ini adalah yang anda butuhkan!

Di pembelajaran KEJAR TARGET, Dedy Budiman yang adalah seorang champion sales trainer mengajarkan secara jelas dan gamblang mengenai prinsip, tips serta teknik dalam berjualan yang perlu dikuasai oleh seorang sales untuk mencapai target penjualan yang diinginkan. Disertai dengan berbagai contoh problem nyata yang sering dihadapi dalam berjualan, menjadikan pembelajaran KEJAR TARGET ini sangat menarik untuk diikuti dan mudah untuk dimengerti.

Anda ingin meningkatkan kemampuan dalam menjual? Segera ikuti KEJAR TARGET !